“Rutinitas Begadang, Picu terjadinya obesitas” - Kiat Sehat

Breaking

Kiat Sehat

Berbagi informasi kiat hidup sehat

Recent Posts

test banner

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Sunday, November 18, 2018

“Rutinitas Begadang, Picu terjadinya obesitas”

Populasi penduduk yang gemuk akhir-akhir ini meningkat di semua kategori usia. Hasil riset kesehatan dasar tahun 2018 yang dipublikasikan baru-baru ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan populasi penduduk obesitas dari 14,8% pada tahun 2013 menjadi 21,8% pada tahun 2018. Kondisi ini tentu sangat mengkhawatirkan bukan? Pola tidur yang tidak tepat diduga merupakan salah satu pemicu ledakan jumlah populasi obesitas tersebut. 

Chaput dan kawan-kawan mempublikasikan hasil penelitiannya tentang bagaimana pengaruh pola tidur terhadap peningkatan berat badan pada orang dewasa dalam jurnal Sleep. Chaput dkk memaparkan bahwa baik durasi tidur yang terlalu pendek maupun durasi tidur yang terlalu panjang, keduanya sama-sama memiliki pengaruh terhadap obesitas. Populasi yang memiliki durasi tidur lebih pendek alias sering begadang dapat menjadi gemuk karena waktu yang tersedia untuk konsumsi cemilan lebih panjang, sehingga asupan makanan melebihi kebutuhan. Di sisi lain, populasi yang memiliki durasi tidur terlalu panjang berakibat pada ketidakseimbangan energi yang masuk dan digunakan, karena pada saat tidur tenaga yang digunakan lebih sedikit. Hal ini berakibat energi disimpan, dan diubah menjadi lemak tubuh.


Dikutip dari https://neurosciencenews.com/files/2015/12/short-sleep-obesity-eating.jpg

Knutson dkk mempublikasikan hasil penelitian eksperimennya dalam Sleep Medicines Reviews. Hasilnya menunjukkan bahwa tidur dengan waktu yang pendek mengakibatkan terjadinya perubahan fungsi tertentu pada tubuh. Fungsi tersebut adalah perubahan fungsi metabolic dan endokrin yaitu penurunan toleransi glukosa, konsentrasi kortisol meningkat, kadar leptin menurun sedangkan kadar ghrelin meningkat. Selain itu aktivitas saraf simpatik meningkat selama kamu begadang. 

 Apa itu metabolism, endokrin serta cara kerja zat tersebut di tubuh?

Arti kata metabolisme merujuk kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia online adalah pertukaran zat pada organisme yang meliputi proses fisika dan kimia, pembentukan dan penguraian zat di dalam badan yang memungkinkan berlangsungnya hidup. Secara sederhana dapat diartikan sebagai proses perubahan makanan yang dimakan dibantu dengan udara yang dihirup pada saat bernafas untuk menjadi zat baru yang dibutuhkan oleh tubuh untuk mempertahankan fungsi kehidupan. Contohnya kamu makan nasi atau karbohidrat yang lain. Nah nasi tersebut oleh tubuh akan diubah menjadi senyawa kimia glukosa yang dapat dibakar oleh oksigen yang kamu hirup saat bernafas. Hasil akhirnya adalah tenaga yang dapat kamu gunakan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Sedangkan fungsi metabolic itu berkaitan dengan bagaimana metabolisme terjadi di dalam tubuh kita. 

Endokrin adalah istilah lain dari hormon. Kortisol, leptin dan ghrelin merupakan bagian dari hormon, sedangkan glukosa merupakan hasil akhir metabolism karbohidrat dibantu hormon insulin.  Bagaimana cara kerja dan fungsi kortisol, leptin dan ghrelin? 

Leptin dan ghrelin memiliki fungsi yang berbanding terbalik. Leptin berperan dalam membaca sinyal kenyang. Dia dihasilkan terutama di dalam sel lemak (adiposa). Jadi semakin banyak sel lemak kamu, maka kadar leptin semakin tinggi. Dalam kondisi ini seharusnya kamu merasa kenyang. Leptin ini berperan dalam menghambat asupan makanan dan mengatur kondisi berat badan kamu serta mempertahankan energi/ tenaga. Sayangnya, kadang leptin yang banyak sering mengalami kondisi “tidak peka”, sehingga sinyal kenyang tidak terbaca oleh otak. Hasilnya kamu akan tetap merasa lapar walaupun makanan sudah banyak masuk. Kondisi itulah yang terjadi pada orang dengan jam tidur yang pendek dan obesitas. 

Ghrelin memiliki fungsi yang berbanding terbalik dengan leptin. Dia berperan untuk membaca sinyal rasa lapar. Hormon ini dihasilkan oleh lambung, saluran pencernaan, pankreas, ovarium dan korteks adrenal ginjal. Kalau kamu merasa lapar, ghrelin akan memberikan sinyal ke otak sehingga kamu mencari makanan. 

Kortisol merupakan salah satu hormon yang sering disebut hormon stress. Mengapa demikian?  Karena hormon ini akan keluar lebih banyak pada saat kamu mengalami stress. Kortisol ini akan memicu pemecahan glukosa agar sediaan energi/ tenaga cukup untuk menghadapi stress. Kortisol dapat memicu obesitas karena mempengaruhi tempat penyimpanan lemak. Pernahkah kamu merasa kalau si lemak lebih suka berkumpul di perut kamu sehingga tampak buncit? Nah si kortisol ini akan memobilisasi lemak untuk disimpan di perut dibandingkan di bagian tubuh lain. Padahal lemak perut itu lebih bahaya lho karena dapat meningkatkan resiko serangan jantung dan stroke. 

Peningkatan selanjutnya yang terjadi akibat kurang tidur adalah peningkatan aktivitas saraf simpatik. Apa itu saraf simpatik? Saraf ini memiliki peran kalau badan kamu sedang menghadapi stress. Pengaruh kerjanya dapat meningkatkan denyut jantung, menstimulasi pencernaan sehingga gula banyak dipecah jadi tenaga yang siap digunakan. 

Semua kondisi yang dipaparkan diatas akibat kurang tidur pada akhirnya akan merangsang nafsu makan yang berlebihan. Hal ini tentu saja dapat memicu penambahan berat badan kamu. Durasi tidur yang pendek memicu obesitas akibat pengaturan hormon ghrelin, leptin, kortisol yang mengontrol nafsu makan mengalami perubahan. Bukan hanya itu, begadang juga menambah waktu kamu untuk memakan cemilan dan merasa lemas untuk beraktivitas keesokan harinya. So, hindari begadang ya, kalau kamu tidak mau menderita obesitas.

Post Top Ad

Responsive Ads Here